Select Page

Opini : Visi Misi, Debat Pilpres, dan Dagelan Demokrasi Indonesia

Opini : Visi Misi, Debat Pilpres, dan Dagelan Demokrasi Indonesia

Sudaryono, Wasekjen Partai Gerindra

ASPRI.ID, JAKARTA — Kalau KPU berhadapan dengan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden yang mau ikut aturan dan tidak banyak menyusahkan, tentu saja sosialisasi atau penyampaian visi dan misi tidak akan dibatalkan oleh KPU. Masalahnya adalah TKN Jokowi-Ma’ruf dan BPN Prabowo-Sandi tidak bersepakat mengenai mekanisme penyampaian visi dan misi.

TKN Jokowi-Ma’ruf menginginkan agar visi dan misi disampaikan oleh tim sukses saja, tidak perlu oleh kandidat. Sedangkan BPN Prabowo-Sandi menginginkan agar penyampaian visi dan misi dilakukan oleh Calon Presiden dan Wakil Presidennya langsung.

Tidak tercapainya mufakat tersebut, membuat KPU membatalkan sosialisasi visi dan misi. KPU membebaskan kepada TKN dan BPN untuk membuat sendiri sosialisasi visi dan misi tanpa difasilitasi KPU, jumlahnya bebas, durasinya bebas, siapapun yang menyampaikan diserahkan sesuai selera Tim Kampanye Nasional ataupun Badan Pemenangan Nasional.

Tentu saja permintaan TKN Jokowi-Ma’ruf adalah permintaan yang aneh. Menyebut alasan bahwa mendatangkan Capres dan Cawapres dalam sosialisasi Visi dan Misi adalah sebuah kesulitan di tengah padatnya agenda kampanye membuat masyarakat tersadar bahwa Jokowi-Ma’ruf tidak memprioritaskan rakyat. Kalau memang Jokowi dan Tim menganggap bahwa sosialisasi visi dan misi ini penting, tentu saja mereka akan datang dan menjadikannya agenda teratas serta menjadikan agenda sosialisasi ini sebagai salah satu cara meyakinkan dan mengambil hati rakyat.

Namun sepertinya Jokowi-Ma’ruf terlalu pongah untuk mengakui ketidakmampuan mereka “berjanji” di depan publik lantaran Jokowi pernah melakukannya pada 2014 dan banyak yang tidak terealiasi.

Sebagai rakyat, tentu saja kita ingin mendengar langsung kandidat Capres dan Cawapres menyampaikan visi dan misinya secara resmi. Jangankan jadi Capres dan Cawapres, jadi ketua OSIS skala SMP dan SMA saja wajib kok menyampaikan visi misi di depan siswa lainnya tanpa diwakili siapapun. Lah ini mau memimpin negara kok ngakunya sibuk dan tidak bisa menyampaikan visi misi sendiri?

Capek-capek rakyat sejak masa sekolah diajari soal kepemimpinan, public speaking, dan segala tetek bengek lainnya, eh di puncak tatanan tertinggi negara kok malah menyuguhkan mental boneka yang semakin tidak pantas untuk dilihat?

Alih-alih memfasilitasi kandidat yang banyak maunya, KPU memilih berlepas tangan. Dengan format yang dibebaskan ini, baik Jokowi-Ma’ruf maupun Prabowo-Sandi akan bertarung sendiri di depan rakyat dalam hal menyampaikan visi dan misinya.

Kalau TKN Jokowi-Ma’ruf akan mengadakan sosialisasi visi misi yang diwakili oleh timsesnya, sepertinya BPN Prabowo-Sandi akan melakukan sosialiasi lengkap dengan kandidat capres cawapresnya, Prabowo-Sandi. Baik Prabowo mupun Sandi dalam beberapa kesempatan bersikukuh ingin menyampaikan visi misi oleh diri mereka sendiri sebagai kandidat.

Dari sini masyarakat tentu akan bisa menilai kualitas pemimpin yang akan memimpin Indonesia selama 5 tahun ke depan. Bukan tidak mungkin lantaran hal ini, simpati rakyat terhadap Jokowi-Ma’ruf akan semakin berkurang dan rakyat merasa tidak dihargai.

3 Comments

  1. ardhijuan

    dungu diajak debat ya nambah dungunya

    Reply
  2. wahyu

    #2019PrabowoSandi

    Reply
  3. ezha

    Pas debat kluarin aja rekaman janjnya 2014, auto panik

    Reply

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.