Select Page

Usaha Jokowi Pilih Andika Perkasa Dinilai untuk Jaga Suara Pilpres

Usaha Jokowi Pilih Andika Perkasa Dinilai untuk Jaga Suara Pilpres

Presiden Joko Widodo melantik Andika Perkasa sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang baru di Istana Negara, Jakarta, Kamis (22/11/2018) siang. Besar kemungkinan, Andika akan jadi Panglima TNI menggantikan Marsekal Hadi Tjahjanto pada 2022.

Kemungkinan ini disampaikan analis militer Aris Santoso kepada reporter Tirto

Argumen Aris kira-kira begini: Pasal 13 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI mengatur bahwa seorang panglima haruslah bekas kepala staf—yang biasanya digilir dari tiga matra. Jika panglima sebelumnya dari Angkatan Udara, penggantinya biasanya dari Angkatan Darat. 

Ini tampak saat Jenderal Djoko Santoso (2007-2010) menggantikan Marsekal Djoko Suyanto (2006-2007). Djoko Santoso berasal dari AD, sementara Djoko Suyanto berasal dari AU. 

Selain prediksi tersebut, Aris juga menyebut keputusan Jokowi memilih Andika tak bisa dilepaskan dari pengaruh Jenderal (purn) A.M. Hendropriyono. Hendro tidak lain mertua Andika. 

“Jokowi masih tahu diri lah. Masih ada pengaruh kuat dari Hendropriyono untuk merangkul orang-orang militer yang belum bisa dirangkul Jokowi,” kata Aris.

Aris menduga relasi kekeluargaan itu pula yang membuat Andika punya karier cemerlang dan didapat dalam waktu relatif singkat. Catatan Made Supriatma, Andika adalah “perwira pertama di kelasnya (Akmil 1987) yang menyandang pangkat Mayor Jenderal” dan itu “dia rengkuh hanya dalam waktu 11 bulan.”

Lantas, kenapa harus Hendropriyono? 

Pertanyaan ini mengemuka karena faktanya Jokowi dekat dengan banyak jenderal, sebut saja Ryamizard Ryacudu, Luhut Binsar Pandjaitan, dan juga Moeldoko. Ketiganya punya jabatan tinggi. Luhut di Kementerian Kemaritiman, Ryamizard di Kementerian Pertahanan, dan Moeldoko di Kantor Staf Presiden. 

Namun menurut Aris, ketiganya masih kalah pengaruh ketimbang Hendropriyono. Secara angkatan, Hendropriyono yang paling senior. Ia lulusan Akabri tahun 1967, sementara Luhut 1970, Ryamizard 1974, dan Moeldoko 1981.

Hendropriyono juga punya keahlian yang tak dimiliki ketiga orang lain: intelijen. Ia adalah Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) ke-11 tahun 2001 hingga 2004. Empat tahun lalu ia bahkan mendapat gelar Guru Besar bidang intelijen dari Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN). 

Pengaruh yang demikian besar sangat menguntungkan Jokowi jika kemudian Hendropriyono tetap ada di “gerbongnya”. Para purnawirawan tetap punya pengaruh di angkatan meski telah bertahun-tahun yang lalu telah pensiun. 

“Moeldoko kekuatannya enggak sebanding dengan Hendro atau Luhut lah. Yang pertama sebetulnya mereka berdua itu [Hendro dan Luhut],” kata Aris.

Direktur Indonesia Political Review Ujang Komarudin mengaitkan langsung antara Andika dan upaya Jokowi memenangkan Pilpres 2019. 

Apa yang dilakukan Jokowi dengan memilih Andika adalah berupaya agar tentara jadi kawan, bukan lawan. Ini semakin mendesak sebab faktanya dalam Pilpres 2014 dan 2019, Jokowi melawan bekas tentara yang punya karier bagus: Prabowo Subianto. 

“Jokowi ingin menjadikan tentara itu sahabat, sebagai teman, dan bukan berhadap-hadapan,” kata Ujang kepada reporter Tirto. “Dia membutuhkan tentara yang loyal untuk meredam chaos yang mungkin terjadi di masyarakat, apalagi di daerah yang jauh seperti Papua,” tambahnya. 

Selain kepentingan keamanan, Jokowi juga perlu tentara untuk menyumbang suara. Meski tak punya hak pilih, keluarga mereka tetap bisa mencoblos siapa pun.

“Ini yang bisa menjadi tambahan suara untuk Jokowi,” katanya lagi.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.